RSS

PERAN AKUPUNKTUR pada SINDROM OVARIUM POLIKISTIK ( SOPK )

18 Sep

OVARY

Sindrom ovarium polikistik lebih dikenal dengan nama PCO (PolyCystic Ovarian syndrome)
Setiap 28 hari atau satu siklus haid, umumnya terjadi pematangan satu folikel dari satu ovarium dan dilepaskan sebagai sel telur yang matang. Bila ovarium tidak berhasil melepaskan sel telur dari folikel, maka akan terbentuk kista ovarium.
Kista ovarium merupakan kantong berdinding tipis berisi cairan yang berada di dalam ovarium. Folikel yang berdiameter lebih dari dua centimeter disebut kista ovarium.
Kista ovarium kecil dapat terjadi pada wanita sehat, tapi bila terdapat dalam jumlah yang lebih akan mengganggu pertumbuhan dan pematangan sel telur, sehingga tidak terjadi ovulasi.

SOPK atau sindrom ovarium polikistik adalah sindrom adanya kista ovarium disertai kelainan produksi endokrin kompleks berupa meningkatnya hormon androgen, diabetes yang resisten insulin, resiko kardiovaskuler dll.
Gejala yang timbul akibat hiperandrogen berupa gangguan ovulasi, gangguan haid, jerawat, penambahan berat badan, pertumbuhan bulu yang berlebihan di daerah laki-laki seperti kumis,bulu di lengan dan tungkai.
Karena tidak terjadi ovulasi, maka haid pun tidak datang sehingga mengganggu kesuburan dan terjadi infertilitas.
Angka kejadian SPOK 4-7 % dari wanita usia subur. Biasanya SPOK terdiagnosa setelah sekian tahun menikah belum juga hamil dan memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Penatalaksaan
1. diet dan olahraga untuk menurunkan berat badan.
perbanyak makan sayur dan buah yang kaya vitamin A, karotenoid dan vitamin B; hindari daging, keju, gorengan, alkohol, cafein, kurangi gula.
1. pil KB untuk regulasi haid
2. metformin untuk menurunkan gula darah
3. obat-obatan yang merangsang pematangan sel telur

Peran akupunktur
Haid bisa terjadi jika terdapat cukup darah dalam rahim, aliran darah yang cukup ke dalam rahim merefleksikan fungsi/aktifitas organ baik, antara lain organ pembentuk darah, organ penyimpan darah, organ sirkulasi darah, organ pembawa cikal genetik.
Akupunktur dapat memberi kontribusi memperbaiki siklus haid.
Pada kasus PCO, akupunktur dapat membantu menyembuhkan jerawat, memperbaiki metabolisme, menurunkan berat badan.
Akupunktur juga melancarkan sirkulasi darah daerah rongga panggul, daerah ovarium, sehingga dapat membantu proses pertumbuhan dan pematangan folikel.
Bila terapi hormon atau obat pemacu pematangan sel telur digabungkan dengan akupunktur, diharapkan pertumbuhan dan pematangan sel telur dapat lebih optimal, sehingga dapat terjadi ovulasi.
Ovulasi inilah yang diharapkan, sehingga memungkinkan terjadinya pembuahan dan kehamilan. Inilah yang dinanti-nantikan oleh wanita penderita PCO yang sedang menantikan buah hati.

Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK)

Pendahuluan:

Pembahasan SOPK berikut ini meliputi 9 hal, yaitu:
1. Anatomi ovarium
2. Histologi ovarium
3. Sinonim SOPK
4. Definisi SOPK
5. Penyebab SOPK
6. Diagnosis SOPK
7. Terapi SOPK
8. Komplikasi SOPK Jangka Panjang
9. Catatan

Anatomi ovarium
Secara makroskopis, ovarium menyerupai buah pir, dengan ukuran yang bervariasi, tergantung usia.
Pada usia reproduksi, ukuran ovarium:
panjang: 2,5–5 cm
lebar: 1,5–3 cm
tebal: 0,6–1,5 cm
Normalnya, ovarium terletak di bagian atas rongga pelvis, bersandar sedikit inferior dari dinding lateral pelvis pada daerah percabangan pembuluh darah iliaka eksternal dan internal, yakni fossa ovarika Waldeyer. Posisi ini sangatlah bervariasi dan biasanya berbeda antara ovarium kiri dengan kanan.
Masing-masing ovarium mengandung sejumlah folikel primordial yang berkembang pada saat awal kehidupan fetus dan menunggu saat pematangan menjadi ovum. Selain memproduksi ovum, ovarium juga menghasilkan hormon seksual.
Perlekatan:
Ovarium terletak di sebelah dinding samping pelvis dan ditahan pada posisi ini oleh dua struktur: ligamentum latum yang melekat ke ovarium di sebelah posterior oleh mesovarium, dan ligamentum ovarika yang menahan ovarium ke kornu uterus.
Ovarium dilekatkan pada ligamentum latum oleh mesovarium. Ligamentum ovarii proprium berjalan dari uterus lateral posterior hingga ke bagian bawah ovarium. Panjangnya beberapa cm dengan diameter 3-4 mm. Ligamentum ini diselimuti oleh peritoneum dan terdiri dari jaringan ikat dan otot yang berasal dari bagian uterus.
Ligamentum infundibulopelvikum berjalan dari bagian ovarium yang menghadap tuba hingga ke dinding pelvis, tempat pembuluh darah dan persarafan ovarium berjalan di dalamnya.
Pasokan darah:
Dari a.ovarika (cabang aorta abdominalis). Drainase vena menuju v.kava inferior di sebelah kanan dan v.renalis sinistra di sebelah kiri.
Drainase limfatik:
Menuju kelenjar getah bening para-aorta.

Histologi Ovarium

Struktur ovarium secara umum dibagi dua: korteks dan medula.
Tiap ovarium dikelilingi oleh kapsula fibrosa, yang disebut tunika albuginea. Tunika albuginea ini merupakan permukaan terluar korteks. Di atas tunika albuginea terdapat epitel kuboid selapis, epitel germinativum Waldeyer.
Medula merupakan bagian tengah yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang merupakan kelanjutan dari mesovarium. Pada medula banyak terdapat pembuluh darah dan sedikit jaringan otot halus yang merupakan kelanjutan dari ligamentum infundibulopelvikum.

Sinonim SOPK:
Sindrom ovarium polikistik, polycystic ovarian syndrome.

Definisi SOPK:
Kumpulan gejala yang ditandai dengan adanya anovulasi (tidak keluarnya ovum/sel telur) kronis (yang berkepanjangan/dalam waktu lama) disertai perubahan endokrin (seperti: hiperinsulinemia, hiperandrogenemia).

Penyebab SOPK:
1. Resistensi insulin
2. Hiperandrogenemia
3. Kelainan produksi hormon gonadotropin
4. Disregulasi P450 c 17
Defek gen pembentuk P450 c 17α, yang mengkode aktivitas 17α-hidroksilase dan 17,20-lyase.
5. Genetik
Ada kecenderungan penurunan sifat secara autosomal dominan.

Diagnosis SOPK:
1. Kriteria Klinis
Hirsutisme (tumbuhnya rambut tubuh yang berlebihan), akne, obesitas/kegemukan (sangat tidak spesifik), oligomenore (menstruasi yang jarang), amenore (tidak menstruasi), perdarahan uterus disfungsi, dan infertilitas.
Konsensus Diagnostik menurut konferensi National Institute of Health (NIH) di Amerika Serikat:
a. gambaran ovarium polikistik tidak harus ada.
b. Kriteria mayor: anovulasi kronis dan hiperandrogenemia.
c. Kriteria minor: adanya resistensi insulin, hirsutisme, obesitas, rasio LH/FSH lebih dari 2,5 dan gmbaran ovrium polikistik pada USG.

Diagnosis SOPK ditegakkan jika memenuhi SATU kriteria mayor dan sekurngnya DUA kriteria minor, dengan menyingkirkan penyebab lain hiperandrogenemia.
Konsensus Diagnostik menurut negara di Eropa:
a. Harus didapatkan gambaran ovarium polikistik dengan USG
b. Gangguan menstruasi (oligomenore atau amenore), dan atau
c. Gambaran klinis hiperandrogenemia (hirsutisme, akne)
d. Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan iagnosis SOPK.
Kriteria praktis dari Homburg (2002):
1. Kriteria awal yang harus ada:
a. Gangguan menstruasi
b. Hirsutisme
c. Akne
d. Infertilitas anovulasi
2. Diagnosis ditegakkan cukup dengan memperoleh gambaran ovarium polikistik pada USG.
3. Jika tidak ditemukan gambaran ovarium polikistik pada USG, maka dilakukan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis SOPK dapat ditegakkan jika ditemukan satu/lebih abnormalitas: peningkatan testosteron serum, peningkatan LH (luteinizing hormone), peningkatan testosteron bebas (dengan menyingkirkan hiperplasi adrenal), perbandingan glukosa puasa:insulin puasa kurang dari 4,5.
2. Kriteria Ultrasonografis (USG)
Kriteria diagnostik jika memakai USG transabdominal:
1. Penebalan stroma
2. Lebih dari 10 folikel berdiameter 2-8 mm di subkorteks dalam satu bidang.
Kriteria diagnostik jika memakai USG transvaginal:
1. Penebalan stroma 50%
2. Volume ovarium lebih dari 8 cm3
3. Lebih dari 15 folikel dengan diameter 2-10 mm dalam satu bidang
3. Kriteria Laboratorium
Pemeriksaan kadar hormon androgen, insulin, dan LH/FSH (Luteinizing Hormone/Follicle-Stimulating Hormone)
Kadar androgen yang dapat diperiksa adalah: testosteron, androstenedion, testosteron bebas, dehidroepiandrosteron (DHEA) atau dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAS), dan dehidrotestosteron (DHT).

Terapi SOPK:

1. Penurunan berat badan, diet, dan olahraga
2. Obat antidiabetik oral
Misalnya: metformin, troglitazone, rosiglitazone, pioglitazone, chlorpropamide, tolazamide, glipizide, D-chiro-inositol.
3. Obat pemicu ovulasi
Misalnya: klomifen, human menopausal gonadotrophin (hMG), purified FSH, recombinant FSH, bromocriptine, dan gonadotrophin releasing hormone (GnRH).
4. Pembedahan (surgery)
a. EBOB (Eksisi Baji Ovarium Bilateral)
b. TEKO (Tusukan ElektroKauter pada Ovarium)
Terapi TEKO dengan laparoskopi lebih baik dibandingkan dengan EBOB karena angka perlekatan pascoperasi yang lebih rendah.

Komplikasi SOPK Jangka Panjang:

1. Diabetes Melitus tipe 2
2. Dislipidemia
3. Kanker endometrium
4. Hipertensi
5. Penyakit kardiovaskular
6. Gestational DM
7. Pregnancy-induced hypertension (PIH)
8. Kanker ovarium
9. Kanker payudara
Catatan:
1. Diperkirakan 8 juta wanita usia subur menderita gangguan ovarium polikistik.
2. Penyebab terbanyak keadaan anovulasi kronis adalah sindrom ovarium polikistik.
3. Ovulasi merupakan proses menghasilkan ovum yang dapat dibuahi, melibatkan susunan saraf pusat supra hipotalamus, hipofisis, dan ovarium sebagai organ target.
4. Ovulasi dipicu oleh peningkatan cepat kadar estrogen.
5. Ovulasi terjadi 10-12 jam setelah terjadinya lonjakan LH dan 24- 36 jam setelah tercapainya kadar puncak estrogen.
6. Resistensi insulin dapat dinilai dengan pemeriksaan:
a. uji toleransi glukosa oral
Keuntungan:
Mudah dikerjakan.
Kerugian:
Dipengaruhi penyerapan glukosa usus.
b. uji toleransi insulin
Keuntungan:
Dapat menunjukkan indeks aktivitas insulin.
Kerugian:
Dapat terjadi hipoglikemia.
c. Infus glukosa berkesinambungan
Keuntungan:
Dapat menunjukkan kerja insulin.
Kerugian:
Bergantung pada validitas tera.
d. Teknik klem euglikemik
Keuntungan:
Dapat mengukur kerja insulin secara kuantitatif.
Kerugian:
Mahal dan sulit.
e. Nisbah gula darah puasa atau insulin puasa
Keuntungan:
Mudah dikerjakan.
Kerugian:
Dipengaruhi oleh kadar gula darah sewaktu.

Referensi:

1. Hadisaputra W, Situmorng H. Sindrom Ovarium Polikistik. Indonesian Gynecological Endoscopy Society (IGES)-Puspa Swara. Jakarta. 2003.
2. Faiz O, Moffat D. Anatomy at a Glance. Blackwell Science Ltd. 2002.
3. Homburg R. What is Polycystic Ovarian Syndrome? A Proposal for a Consensus on The Definition and Diagnosis of Polycystic Ovarian Syndrome. Hum reprod. 2002; 17 (10): 2495-9.
Gejala2 yg saya ketahui adalah (dari berbagai referensi & DSOG saya):
– Siklus mensnya tdk teratur & cenderung panjang periodenya i.e. 40 hari
– Tdk mens sama sekali utk kurun waktu yg lama i.e. 3 bln or lebih….
– Saat mens yg keluar hanya cercahan saja
Jika scr medisnya, maka dpt dikenali dari:
– Penebalan dinding indung telur (lebih dari 12-13mm??)
– Tingginya hormon2 tertentu dlm darah kita (i.e. prolaktine, LH & FSH??)

Adapun pengobatannya:
– Minum Obat (i.e. bromocryptin – ini saya kutip dari jawaban dokter di
milis MLDI ini)
– Jika msh berlanjut (krn minum obat tdk mempan) maka hrs di laparaskopi

Sindrom Ovarium Polikistik/SOP (Polycystic Ovary/PCO)

Sindrom Ovarium Polikistik pada wanita adalah gangguan kelenjar endrokinologik yang mengakibatkan timbulnya kista-kista kecil di ovarium(indung telur). Dari penelitian diduga bahwa penyebab SOP adalah faktor genetik.

Beberapa gejala SOP:
1.Hirsutisme: tumbuh rambut lebat di dada, kaki, muka
2.Anovulasi:pelepasan sel telur yang terhalang di tengah siklus menstruasi
3.Banyak kista di ovarium
4.Berat badan bertambah terutama di sekitar panggul
5.Resisten terhadap insulin
6.Berjerawat
7.Rambut rontok
8.Acanthosis nigrans:menggelapnya kulit di bawah lengan, dada, tengkuk

Pemeriksaan untuk mendiagnosis SOP oleh dokter:
1.Siklus menstruasi, riwayat reproduksi, riwayat kehamilan, metode KB.
2.Pemeriksaan fisik dan panggul (USG)
3.Tes darah untuk mengetahui kadar hormone
4.Tes kadar insulin dan glukosa untuk mengetahui kadar diabetes dan resistensi insulin.

Selama ini belum ada obat untuk mengobati SOP, yang bisa dilakukan dokter adalah mencegah agar tidak terjadi masalah yang lebih rumit, yaitu:
1.Menggunakan pil KB yang mengandung antiandrogen untuk membantu penderita mendapat haid secara teratur sesuai siklus.
2.Laparoskopi:dokter akan menusuk ovarium dengan jarum kecil yang mengandung arus listrik untuk menghancurkan kista-kista kecil di ovarium.

About these ads
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 18/09/2009 in Kesehatan

 

3 responses to “PERAN AKUPUNKTUR pada SINDROM OVARIUM POLIKISTIK ( SOPK )

  1. neneng titin mardiah

    26/11/2009 at 16:44

    trikasih,sdr.maulida tulisan anda sangat bermanfaat dalam mendiagnosa berbagai keluhan kaum wanita dan utk menjalani therafi tindak lanjut.semoga anda dapat lebih mengembangkan penemuan anda salam sukses.

     
  2. rika wahyuni

    04/01/2010 at 15:34

    trma kasih tulisan ada bisa saya jadikan, referensi untuk menambah ilmu.

     
  3. anis

    01/05/2010 at 05:25

    Trimakasih atas karyanya dah ngebantu banget
    sukron katsir,

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: