RSS

Poligami

12 Mar

Dari barisan ibunda-ibunda, terlihat lirik-lirikan dan dari barisan ayahanda-ayahanda terlihat sesenyuman, ketika sang Ustad mengangkat Tema  poligami di pengajian subuh tadi (12-3-2011).

“Tujuan pernikahan adalah untuk menenangkan lahir dan batin” Kata Ustad sebagai kalimat pembuka

“Ibu-Ibu, Siapa yang tidak setuju dengan poligami ?”

Serentak ibu-ibu Tak memberikan jawaban pasti,  setumpuk alasan yang terdengar begitu riuh, hingga tak jelas, apakah sedang menjawab atau ngedumel.

Tiba-tba sang ustad mengatakan dengan suara tegas “Jika Ibu-Ibu tidak setuju, berarti Ibu-Ibu kafir!”

semua terlihat tersentak.

“Masalah poligami jelas ada di dalam Al-Quran, mendustakannya  salah satu ayat Al-Quran, sama saja dengan mendustakan seluruhnya”

“Tetapi jika ibu-ibu menjawabnya, ‘Pak, saya tidak suka dengan oknum-oknumnya!’ ..bisa jadi betul! karena poligami itu berkaitan dengan aspek sosial bukan seksual” Lanjut pak Ustad

——————————————————————————————-

Berikut ini catatan yang bisa saya catat subuh tadi, walaupun saya lebih tertarik melihat ekspresi para ibunda dan para ayahanda dan secangkir teh hangat yang telah disajikan.

————————————————————————————

ehm, sebenarnya ayat apa ya yang dijadikan sebagai senjata andalan laki-laki untuk melakukan poligami ?

“Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap anak-anak atau perempuan yatim (jika kamu mengawininya), maka kawinlah dengan perempuan lain yang menyenangkan hatimu; dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (terhadap istri yang terbilang), maka kawinilah seorang saja, atau ambillah budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya”

(An-Nisa’ (4) :  3)

Kita lihat kalimat ini : Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap anak-anak atau perempuan yatim

Kata yatim, oleh ahi tafsir diartikan sebagai: “Yang tidak memiliki pelindung, sehingga mereka hadir menjadi tanggung jawab sosialnya.

Oleh karena itu, tidak hanya seorang anak yang ayahnya meninggal saja disebut yatim.  Dalam status syariat, janda juga berarti yatim.

(Dalam kamus Bahasa arab, tidak ada istilah piatu, yang ada hanyalah anak-anak yatim dan perempuan-perempuan yatim” Jelas Ustad sebagai penyeling)

Nah, Sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dalulu pak ustad menerangkan terkait status penduduk:

1. Mustautin : Penduduk setempat, penduduk tetap

2. Muqimin : Penduduk sementara

Misalnya mahasiswa yang rumah orang tuanya ada di Bandung, kemudian ia bermukim di Bogor untuk kepentingan kuliah. atau misalnya seseorang yang bekerja di Jakarta, sedangkan rumahnya di Bogor, begitupula dengan keluarganya yang juga tinggal di Bogor. Karena di suatu massa, ia akan kembali kedaerah asalnya.

3.  Musafirin : Orang yang hanya sekedar berpergian, tidak bermaksud untuk bekerja

Misalnya orang yang melaksanakan haji

——————————————-

Dari status tersebut, mari kita lihat masing-masing kewajiban yang diembannya:

1. Mustautin :

a. Wajib melaksanakan Shalat pada waktunya

b. Mempunyai tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya

2. Muqimin :

a. Wajib melaksanakan Shalat pada waktunya

b. Tidak memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan

3.  Musafirin :

a. Tidak wajib melaksanakan shalat pada waktunya

(bisa 3 waktu dengan 11 rakaat (Shalat jama’ dan qashar))

b. Tidak memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan

……

Lalu apa kaitannya dengan poligami ?

Point Tanggung jawab sosial yang dimaksud disini

Studi kasus :

Jika di suatu massa, ada seorang wanita yang ditinggal suaminya (suaminya meninggal dunia), kemudian keterpurukan ekonomi begitu menjepit kehidupannya  dan anak-anaknya.

1. Dalam kasus ini, wanita tersebut dan anak-anaknya disebut sebagai yatim

2. Lalu apa yang harus dilakukan?

Berdasarkan status penduduk, mustautin memiliki kewajiban berupa tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, bisa dikatakan pendudukyang sekompleks dengan wanita itu memiliki kewajiban berupa tanggung jawab sosial tersebut.

3. Bagaimana kewajiban tersebut dapat ditunaikan ?

Misalnya dengan iuran warga dsb. Namun jika muncul suatu masalah, misalnya “boro-boro ngumpulin iuran untuk menghidupi seorang janda dengan anak-anaknya, bayar iuran sampah yang hanya 4500 saja sulitnya minta ampun” …bagaimana cara menyelesaikannya, padahal tanggung jawab sosial tersebut menjadi fardu kifayah, yang harus digugurkan.

Nah masuklah, misalnya seorang laki-laki yang mengajukan diri untuk menggugurkan, dengan memeberikan bantuan karena merasa mampu, namun untuk menghindari kecurigaan di masyarakat, akhirnya diputuskan untuk menikahi wanita tersebut.

(Saat itu suasana mulai mengeruh, para ibunda mulai tak setuju, “masih ada cara lain kan pak ustad!” kata seorang ibu…. Kemudian pak ustad menjawab    ” jika dihadapkan dengan kondisi yang sangat-sangat terjepit, sehingga wanita itu harus dinikahi, karena pada faktanya, kebaikan tak selamanya dipandang baik oleh masyarakat”

“Sehingga salah jika seseoang laki-laki yang misalnya tingga di Bogor, kemudian hunting sampai ke Sukabumi atau Ciawi, karena Ia hanya punya tanggung jawab sosial di wilayahnya saja!” Lanjut Ustad dengan tegas sambil melihat para ayahanda yang sejak tadi hanya mengangguk-angguk)

Dan menikah tidak boleh disembunyikan, oleh karena itu ada yang namanya walimahan. Tidak boleh nikah siri. Tidak boleh membiarkan kecurigaan di masyarakat.

Kemudian terkait dengan kata “adil”

“adil” dalam bahas Al-Qur’an bisa “Tuksitu” dan bisa juga “ta’dilu”

– Tuksitu : Adil yang tak seimbang

– Ta’dilu : Adil yang seimbang

Dalam surat An-Nisa (4) : 3 di atas, kata adil pada :

“Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap anak-anak atau perempuan yatim (jika kamu mengawininya), maka kawinlah dengan perempuan lain yang menyenangkan hatimu; dua, tiga, atau empat…..”

yaitu tuksitu (Lihat di Bahasa Al-Qur’annya)  atau adil yang tak seimbang.

“maksudnya, yang namanya adil itu tidak selalu sama” jelas ustad

“Sehingga karena yang digunakan adil disitu adalah tuksitu, maka jika kemudian berpoligami, tidak boleh menyamakan antara istri pertama dengan wanita yang kita nikahi karena ingin menggugugurkan tanggung jawab sosial tersebut (istri kedua). Misalnya pebandingan  antara istri pertama dan kedua adalah 90:10. Oleh karena itu di dalam al-Quran dijelaskan

“Tidak boleh meminta keadilan yang seimbang”

——

Kemudian Dalam surat An-Nisa (4) : 3 di atas, kata adil pada :

“…..Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil (terhadap istri yang terbilang), maka kawinilah seorang saja, atau ambillah budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya”

yaitu ta’dilu (Lihat di Bahasa Al-Qur’annya)  atau adil yang  seimbang.

Agama tidak memungkiri aspek seksual.

Studi kasus :

Misalnya ada seorang laki-laki yang memiliki hasrat seksualnya yang tinggi, namun sang istri tidak mampu memenuhi. Karena ditakutkan nantinya akan melakukan perbuatan zina , sehingga berniatlah sang suami berpoligami.

namun dalam ayat tersebut dikatakan syaratnya, yaitu harus mampu berbuat adil (ta’dilu = adil yang seimbang) !

Permasalahan yang muncul, apakah bisa dilakukan adil yang seimbang tersebut !

(Kondisi pengajian mulai mendingin, tertangkap para ibunda kini posisinya mulai berada di atas angin)

“Nah, mari kita lihat surat An-Nisa (4) : 129

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

artinya “Tidak Mungkin!”

Kemudian kita kembali ke surat An-Nisa ayat 3, maka cukup seorang saja. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Jadi Poligami  jelas ada di dalam ayat Al-Quran, tidak boleh kita mengingkarinya.  Namun maksud ayat ini sesungguhnya menganjurkan monogami, bukan justru poligami.

(Pengajian pun ditutup dengan hamdalah dan doa kifaratul majlis)

——————————————————————————————-

catatan ini masih sangatlah awal, yang kedepannya semoga bisa lebih diperbaiki lagi. Namun hal penting yang saya garis bawahi dari ceramah subuh ini

“Terkadang yang membuat kita salah dalam menangkap maksud ayat, jika kita begitu saja terpuasi  belajar hanya dari bahasa terjemahannya, bukan dengan bahasa Al-Qur’annya, padahal kosa kata bahasa kita (indonesia) pada faktanya begitu terbatas. Sehingga memang benar, mempelajari bahasa arab adalah hal yang sangat penting”

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/03/2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: