Aku Ingin Menulis Puisi Tentang Alam (Oleh : Bpk. Adhie M Massardi)
Aku ingin menulis puisi tentang lautan
dengan gelombangnya yang pasang
karena laut dan gelombang sepanjang ruang
tak pernah berhenti berdzikir kepadaMu.
Aku juga ingin menulis puisi tentang sebuah pohon
dengan ranting-rantingnya yang kering
karena ia ta tak pernah mengeluh pada waktu
sekalipun angin merontokkan daun-daunnya.
Metamorphosa (Oleh : Ags. Arya Dipayana dalam Kumpulan sajak : Sehingga Kabut)
Ada seekor ulat merayap di helai daun, mengunyah
daun-daun. Ia mendadak takjub ketika dilihatnya seekor
kupu-kupu menghisap madu di kuntum bunga : pesona
warna-warna. Ia ingin menjelma pesona
Diisyaratkannya pada kupu-kupu
agar membukakan baginya rahasia itu.
“Teruslah mengunyah daun-daun itu!” Jawabnya.”Tapi
kau harus terlebih dahulu tersisih, terasing dari keramaian, dan terkurung sendirian diruang gelap
dan pengap, bermusim-musim lamanya…”
Ibu;
Minggu hanya mengandung tujuh hari, tapi kau ijinkan aku tumbuh dirahimmu selama 9 bulan
Kau tarik nafasmu mesra, saat aku bergeliat tanpa tahun
Derai kata penantian yang jatuh dari bibirmu membara rindu
Bergelimpangan kata penuh asa ditinggal sisa windu
“Anakku, ketakutan dan rasa sakit yang menemani kelahiranmu akan ibu hadapi, asal kau selamat tanpa cacat” Begitulah menyerah kata pada kekutan syahidmu
Dan kemudian erangan itu membelah ari-ariku, pisahkan aku dengan kandungmu
Dentingan detik bermain kasih dan sayang bersamaku
Kau petik perlahan waktu. Kita berjalan bersama 36 bulan, dan aku masih bergelayut dipundakmu.
Cerlang matamu begitu mempesonaku
Ada hamparan harapan dalam sentuhan tatapanmu yang merona teduh
Catatan sikapmu kuiikuti, lembaran demi lembaran
Waktu terus kayuhkan pedal usia, tiba dibalighku
Seperti madu, dengan kehatian kau jaga agar tetap terlindung disarangnya
“Anakku, kau lahir di dunia ini dan bertemu dengan sebumi kebahagiaan, tetapi ingatlah Nak, itu hanyalah selangit kesemuan” Gema nasihatmu menyiapkanku
Ketidakstabilan menampar wajahku berulang kali
Kau cemas, namun dengan kesabaran
Remah kemarahan yang tersisa diwajahku itu satu persatu kau punguti
Kau kumpulkan dalam cawan bijak
“Ajarkan padaku Ibu, bagaimana caranya aku membalas sesuatu apa yang tak bisa terbalas?”
Wajah purnama yang merona lepas
Bertahta serdadu awan yang bergerak seirama nafas
Bila saja saat itu gemintang menceritakan hikayat surga
Maka akan aku tokohkan Hang kaki ibuku
Dan disebuah episode cerita, akan ada seorang anak yang terduduk, kemudian sayup-sayup terdengar:
“Ya Allah, aku cinta ibuku, sungguh sangat. Mohon sampaikan padanya selalu Keberkahan-Mu, aamiin” Ucapkan membilang di sepertiga sembilan malam
———————————————————————-
Allah berfirman :
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
QS. Al-Ahqaaf (46) : 15
Cita
Langit hanyalah jelmaan pikiran yang menguap
sedangkan bumi adalah ruang nyata yang meraup
Tapi mengapa hanya berharap pada hujan yang belum tentu merintik
lupakah pada berapa jejak lagi yang harus ditinggalkan ?
Bogor, 17 Juni 2011
“simfoni hidup”
Kedut-kedut nadiku berdenyut
Plak-plak ikan berkecipak
Ah, simfoni hidup menyibak lembar-lembar impian
Iramanya begitu menggairahkan
(2010)
Sia-sia
Senyampang ada waktu
Jauhi perbuatan sia-sia
Ia yang tidak menambahkan tabungan pahala
Walaupun ia juga tidak menambahkan tabungan Dosa
Agar tak tersayang-sayang 1
(2010)
Pagi ini sebongkah rindu untukmu Ayah
Lamat kudengar, semilir angin berbisik tentang sebuah rahasia
“Terkadang rindu baru datang ketika sosok itu telah pergi dari sisimu”
Dan ketahuilah wahai alam, Sungguh rahasia itu benar adanya
(2010)
Kaya akan Miskin; Miskin akan Kaya
Jiwa yang hampa mulai gentar
Raga pun mendadak gemetar
Melihat Bocah lapar
mati terkapar
tinggallah esok telinga rakyat mendengar
Sang Penguasa berkoar:
” kalian tidak perlu takut tidak bisa merasakan miskin ! karena di Bumi Indonesia kemiskinan masih luas menghampar”
Cita
Bergumul pada cita seakan simfoni yang takkan pernah selesai
tak berhenti oleh waktu walau hidup hampir usai
sebab, oleh pandai rawi, konon katanya, Ia hadir leluasa dari imaji usia
Tercapai atau tidak, sst…itu hanyalah resia
Baguslah kita biarkan diri kita menikmati alunannya
ilham bagi orang orang yang menghargai akan hidup
bahwa hidup mesti berubah ke arah yang lebih baik
2010
***
“terinspirasi dari sang mentari yang terus tanpa lelah hadir di setiap pagi, mematuhi bisikanNya, seakan mengingatkanku akan sebuah hadis,
“Wahai manusia, Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “pada setiap fajar, ada 2 malaikat yang berseru-seru, ‘Wahai anak adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu, manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak akan kembali lagi sehingga hari pengadilan’ (HR Turmudzi),
kutilik lembaran cita yang pernah kubuat, tak kan kubiarkan ia hanya ada di awang-awang, biarkan aku mewujudkannya dan berharap sama pada semua cita yang ada di bumi, semua cita yang terisnpirasi dari Nya. sungguh tangisan meminta di setiap sujud adalah nyanyian teromantis yang pernah aku dengar.
akan selalu ada cita dari jiwa yang hidup, seperti akan selalu ada mentari dari pagi yang cerah…hingga waktunya tiba, ketika cita harus mengucapkan salam perpisahan untuk jiwa yang telah mati dan ketika sang mentari mengucapkan salam perpisahan pada sang pagi.
Dalam kabut Kulihat Bumi
Wahai sayang…..
Kami manusia bagai raja yang tamak
Air, api, tanah, udara yang menyusun tubuhmu kami rusak
Koyak-koyak tubuhmu untuk kekayaan pribadi
Bahkan hanya karena keisengan semata
Wahai sayang…..
Kami tak peduli kalau kau telah menua
Karena kami hanya tunduk pada kebutuhan kami semata
Wahai sayang….
Sesungguhnya kami hanya tak sadar
Bahwa kau takkan pernah tunduk pada kami
Saat ini kau hanya membumikan dirimu
Tunduk pada ketentuan-Nya, Sang Penciptamu
Sesungguhnya kami belum sadar
Bahkan berpura tak sadar
Bahwa disaatnya nanti
kami akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakanmu
Kami harus merasakan setiap dalamnya luka ditubuhmu
karena ulah tangan kami sendiri
Wahai sayang……
Sungguh, saat ini pikiranku menerawang begitu jauh
Tentang kehidupan, tentang keadaanmu dimasa yang akan datang
Akankah kau masih diam membumi?
Akankah anak cucuku masih dapat merasakan sehatmu?
Wahai sayang….
Aku masih disini
Menemanimu dalam harap yang dalam
Aku memang takkan bisa mengembalikan kemudaanmu
namun aku kan membuatmu lebih sehat diusiamu yang telah senja
Tidak, bukan aku saja, tapi kami semua, para penghunimu
Wahai sayang……
Bumiku tercinta













