Notes lia

Be the best DA

Aku Ingin Menulis Puisi Tentang Alam (Oleh : Bpk. Adhie M Massardi)

Aku ingin menulis puisi tentang lautan

dengan gelombangnya yang pasang

karena laut dan gelombang sepanjang ruang

tak pernah berhenti berdzikir kepadaMu.

Aku juga ingin menulis puisi tentang sebuah pohon

dengan ranting-rantingnya yang kering

karena ia ta tak pernah mengeluh pada waktu

sekalipun angin merontokkan daun-daunnya.

Baca selebihnya »

20/07/2011 Posted by | Puisi | 1 Komentar

Metamorphosa (Oleh : Ags. Arya Dipayana dalam Kumpulan sajak : Sehingga Kabut)

 

 

Ada seekor ulat merayap di helai daun, mengunyah

daun-daun. Ia mendadak takjub ketika dilihatnya seekor

kupu-kupu menghisap madu di kuntum bunga : pesona

warna-warna. Ia ingin menjelma pesona

Diisyaratkannya pada kupu-kupu

agar membukakan baginya rahasia itu.

“Teruslah mengunyah daun-daun itu!” Jawabnya.”Tapi

kau harus terlebih dahulu tersisih, terasing dari keramaian, dan terkurung sendirian diruang gelap

dan pengap, bermusim-musim lamanya…”

02/07/2011 Posted by | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Ibu;

Minggu hanya mengandung tujuh hari, tapi kau ijinkan aku tumbuh dirahimmu selama 9 bulan

Kau tarik nafasmu mesra, saat aku bergeliat tanpa tahun

Derai kata penantian yang jatuh dari bibirmu membara rindu

Bergelimpangan kata  penuh asa ditinggal sisa windu

“Anakku, ketakutan dan rasa sakit yang menemani kelahiranmu akan ibu hadapi, asal kau selamat tanpa cacat” Begitulah menyerah kata pada kekutan syahidmu

Dan kemudian erangan itu membelah ari-ariku, pisahkan aku dengan kandungmu

Dentingan detik bermain kasih dan sayang bersamaku

Kau petik perlahan waktu. Kita berjalan  bersama 36 bulan, dan aku masih bergelayut dipundakmu.

Cerlang matamu begitu mempesonaku

Ada hamparan harapan dalam sentuhan tatapanmu yang merona teduh

Catatan sikapmu kuiikuti, lembaran demi lembaran

Waktu terus kayuhkan pedal usia, tiba dibalighku

Seperti madu, dengan kehatian kau jaga agar tetap terlindung disarangnya

“Anakku, kau lahir di dunia ini dan bertemu dengan sebumi kebahagiaan, tetapi ingatlah Nak, itu hanyalah selangit kesemuan” Gema nasihatmu menyiapkanku

Ketidakstabilan menampar wajahku berulang kali

Kau cemas, namun dengan kesabaran

Remah kemarahan yang tersisa diwajahku itu satu persatu kau punguti

Kau kumpulkan dalam cawan bijak

“Ajarkan padaku Ibu, bagaimana caranya aku membalas sesuatu apa yang tak bisa terbalas?”

Wajah purnama yang merona lepas

Bertahta serdadu awan yang bergerak seirama nafas

Bila saja saat itu gemintang menceritakan hikayat surga

Maka akan aku tokohkan Hang kaki ibuku

Dan disebuah episode cerita, akan ada seorang anak yang terduduk, kemudian sayup-sayup terdengar:

“Ya Allah, aku cinta ibuku, sungguh sangat. Mohon sampaikan padanya selalu Keberkahan-Mu, aamiin” Ucapkan membilang di sepertiga sembilan malam

———————————————————————-

Allah berfirman :

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
QS. Al-Ahqaaf (46) : 15

Video

26/06/2011 Posted by | Puisi | 1 Komentar

Cita

Langit hanyalah jelmaan pikiran yang menguap

sedangkan bumi adalah ruang nyata yang meraup

Tapi mengapa hanya berharap pada hujan yang belum tentu merintik

lupakah pada berapa jejak lagi yang harus ditinggalkan ?

Bogor, 17 Juni 2011

17/06/2011 Posted by | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

“simfoni hidup”

Kedut-kedut nadiku berdenyut

Plak-plak ikan berkecipak

Ah, simfoni hidup menyibak lembar-lembar impian

Iramanya begitu menggairahkan

(2010)

 

18/12/2010 Posted by | Puisi | 1 Komentar

Sia-sia

 

Senyampang ada waktu

Jauhi perbuatan sia-sia

Ia yang tidak menambahkan tabungan pahala

Walaupun ia juga tidak menambahkan tabungan Dosa

Agar tak tersayang-sayang 1

(2010)

 

 

12/12/2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi ini sebongkah rindu untukmu Ayah

 

Lamat kudengar, semilir angin berbisik tentang sebuah rahasia

“Terkadang rindu baru datang ketika sosok itu telah pergi dari sisimu”

Dan ketahuilah wahai alam, Sungguh rahasia itu benar adanya

(2010)

12/12/2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Kaya akan Miskin; Miskin akan Kaya

Jiwa yang hampa mulai gentar

Raga pun mendadak gemetar

Melihat Bocah lapar

mati terkapar

tinggallah esok telinga rakyat mendengar

Sang Penguasa berkoar:

” kalian tidak perlu takut tidak bisa merasakan miskin ! karena di Bumi Indonesia kemiskinan masih luas menghampar”

 

 

06/12/2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Cita

Bergumul pada cita seakan simfoni yang takkan pernah selesai

tak berhenti oleh waktu walau hidup hampir usai

sebab, oleh pandai rawi, konon katanya, Ia hadir leluasa dari imaji usia

Tercapai atau tidak, sst…itu hanyalah resia

Baguslah kita biarkan diri kita menikmati alunannya

ilham bagi orang orang yang menghargai akan hidup

bahwa hidup mesti berubah ke arah yang lebih baik

 

2010

***

“terinspirasi dari sang mentari yang terus tanpa lelah hadir di setiap pagi, mematuhi bisikanNya, seakan mengingatkanku akan sebuah hadis,

“Wahai manusia, Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “pada setiap fajar, ada 2 malaikat yang berseru-seru, ‘Wahai anak adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu, manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak akan kembali lagi sehingga hari pengadilan’ (HR Turmudzi),

kutilik lembaran cita yang pernah kubuat, tak kan kubiarkan ia hanya ada di awang-awang, biarkan aku mewujudkannya dan berharap sama pada semua cita yang ada di bumi, semua cita yang terisnpirasi dari Nya. sungguh tangisan meminta di setiap sujud adalah nyanyian teromantis yang pernah aku dengar.

akan selalu ada cita dari jiwa yang hidup, seperti akan selalu ada mentari dari pagi yang cerah…hingga waktunya tiba, ketika cita harus mengucapkan salam perpisahan untuk jiwa yang telah mati dan ketika sang mentari mengucapkan salam perpisahan pada sang pagi.

20/11/2010 Posted by | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam kabut Kulihat Bumi

 

 

Wahai sayang…..

Kami manusia bagai raja yang tamak

Air, api, tanah, udara yang menyusun tubuhmu kami rusak

Koyak-koyak tubuhmu untuk  kekayaan pribadi

Bahkan hanya karena keisengan semata

Wahai sayang…..

Kami tak peduli kalau kau telah menua

Karena kami hanya tunduk pada kebutuhan kami semata

Wahai sayang….

Sesungguhnya kami hanya tak sadar

Bahwa kau takkan pernah tunduk pada kami

Saat ini kau hanya membumikan dirimu

Tunduk pada ketentuan-Nya, Sang Penciptamu

Sesungguhnya kami belum sadar

Bahkan berpura tak sadar

Bahwa disaatnya nanti

kami akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakanmu

Kami harus merasakan setiap dalamnya luka ditubuhmu

karena ulah tangan kami sendiri

Wahai sayang……

Sungguh, saat ini pikiranku menerawang begitu jauh

Tentang kehidupan, tentang keadaanmu dimasa yang akan datang

Akankah kau masih diam membumi?

Akankah anak cucuku masih dapat merasakan sehatmu?

Wahai sayang….

Aku masih disini

Menemanimu dalam harap yang dalam

Aku memang takkan bisa mengembalikan kemudaanmu

namun aku kan membuatmu lebih sehat diusiamu yang telah senja

Tidak, bukan aku saja, tapi kami semua, para penghunimu

Wahai sayang……

Bumiku tercinta

19/11/2010 Posted by | Puisi | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.