Catatan Penting : Perjalanan yang berbuah
Ini hanyalah sebuah cerita, tetapi ini cerita yang bukan hanya sekedar cerita.
suatu hari saya sengaja berkunjung ke sebuah museum. saya menanyakan sejarah sebuah tempat, untuk sebuah kepentingan. Setelah sang pemandu bercerita panjang lebar, dan saya pun mengaggapinya dengan pertanyaan sedikit melebar. akhirnya keluarlah sebuah kalimat ini :
“Pemerintah seharusnya tegas, tempat yang mempunyai sejarah itu seharusnya tidak ada pengemis-pengemis yang mangkal. saya bingung kenapa dinas sosial tidak bisa bertindak tegas”
Kemudian, sepulang dari museum, muncul berbagai macam pertanyaan di benak. sambil berjalan, mengamati sekeliling, hingga tiba di sebuah jembatan yang akan saya angkat dalam sebuah cerpen. Langkah saya terhenti, dan saya kemudian duduk bersila disamping salah seorang peminta-minta. tapi istilah peminta-minta sepertinya memang tak layak dilayangkan kepada beliau.
Baiklah, ijinkan saya menuliskan tentang perasaannya…dia yang duduk sepanjang 1/2 hari. dengan topi dan payungnya, duduk tanpa perlu kaki terjulur. selalu tersenyum ramah, melantunkan doa dan rasa syukur ketika koin atau lembaran diberikan padanya. tangannya tak pernah meminta, ia hanya duduk disitu….hanya duduk.
Perlahan dia menunduk, dan berkata setelah saya bertanya kemudian terdiam agak lama sambil memperhatikan orang-orang yang ikut memperhatikan saya, (Jujur saya khawatir pertanyaan yang saya ajukan tidak berkenan di hati beliau, jadi saya terdiam, sambil menikmati terik).
Saya sesungguhnya malu seperti ini. dahulu saya bekerja, saya hidup berbahagia bersama istri dan kelima anak saya.
sampai suatu hari saya terjatuh dari kereta.
Kemudian beliau kembali tediam, matanya berkaca-kaca.tapi tidak lama, beliau kemudian melanjutkan kata-katanya dengan tegar.
kedua kaki saya hancur, dan diamputasi hingga pangkal paha. Saya dan istri saya akhirnyapun bercerai, dia menikah lagi.
Saya berusaha bertahan hidup demi kelima anak saya. Saya berusaha, semua harta saya, saya jadikan modal untuk membuka usaha. tetapi sulit sekali. punya modal kecil, sulit bersaing dengan mereka yang punya modal besar. yang ada hanya rugi dan rugi, apalagi dengan fisik seperti ini. Sedangkan kelima anak saya membutuhkan biaya pendidikan. Saya akhirnya terpaksa duduk disini.
[kemudian dia diam, dan matanya memandang seorang anak sekolah yang berjalan diseberang jembatan]
saya sebenarnya sangat malu, dan saya tahu anak-anak saya juga malu. Tapi saya harus bagaimana ?
Dulu, ketika jaman Soeharto, kalau kami dijaring oleh dinas sosial. Kami diberikan pekerjaan, tapi pendapatannya sangat tidak mencukupi. mungkin hanya cukup makan, itupun sangat seadanya, tetapi saat itu saya mencoba bertahan.
tapi akhirnya saya keluar, saya tidak mau anak-anak saya putus sekolah. saya harus mencari uang untuk mereka. dan saya kembali duduk di sini, saya tetap menggunakan kemeja saya, tidak berpura-pura menggunakan baju lusuh. saya tidak memohon untuk diberikan. saya hanya duduk disini, dan menunggu, selama 20 tahun saya duduk disini untuk bertahan, saya terus berfikir apa lagi yang bisa saya lakukan. pekerjaan apa yang bisa saya lakukan, agar anak saya bisa kuliah dan keempat adiknya bisa melanjutkan sekolah. Setelah jam 12, saya pergi untuk bekerja ditempat lain, saya tetap berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak, agar anak-anak saya juga tidak malu melihat bapaknya seperti ini. mereka sudah semakin dewasa sekarang.
Saya sadar banyak omongan tentang kami, mungkin kata mereka seperti ini: “Para pengemis itu gak jera-jera ya, udah dibilang jangan disitu, masih aja datang-datang lagi”
kemudian laki laki sesaat tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada seorang pejalan kaki yang baru saja memberinya uang. setelah pejalan kaki itu pergi, dengan wajah yang penuh syukur, ia menunduk, kemudian membacakan sebuah doa (doa yang sangat tulus). kemudian dia melanjutkan perkataannya dengan serius :
Dinas sosial sekarang tidak seperti dulu. Dulu setelah kami diberitahu, kami diberikan pekerjaan, walaupun memang sangat seadanya.
Kalau sekarang, setelah kami dijaring, iya, mereka tetap memberikan nasehat, bahwa tidak boleh berada disitu, tapi setelah itu kami dikeluarkan tanpa ada jalan keluar untuk masalah-masalah kami. Sudah sering saya dijaring, tapi malah jadi menganggap biasa.
beliau kemudian menghela nafas,
Tapi saya tetap akan berusaha. Bagi saya hidup itu akan lebih nikmat jika kita selalu bersyukur dan tidak berputus asa.
Ya, sekiranya hanya itu yang bisa saya ceritakan. Saat itu langit memang terlalu terik, tapi tak seterik pikiran saya.. berulang kali saya mengucapkan syukur, saya bisa duduk seperti beliau, mendapatkan sebuah pelajaran berharga yang takkan pernah saya dapatkan ditempat kuliah atau diseminar apapun itu yang pernah saya ikuti.
—————————
“Ketika ada sebuah masalah di depan kita. janganlah hanya memandang satu titik, tapi lihatlah lebih dekat titik-titik yang lain, sesungguhnya iya hanyalh lingkaran yang terputus-putus, satu dengan lainnya saling sebab menyebabkan”
Sesungguhnya mengentaskan masalah-masalah ini tidak bisa hanya dengan solusi yang seadanya atau bahkan setengah matang.
Dan “Bersyukurlah selalu dalam hidup, jangan pula memandang rendah orang-orang yang memaliki kemampuan di bawah kita”
Belum ada komentar.




