Bismillah
Latar Belakang penulisan:
Ali Bin Abi Thalib pernah berkata “Ikatlah Ilmumu dengan cara menuliskannya”
Penulis juga mengucapkan terima kasih atas kunjungannya, hanya tulisan-tulisan ala kadarnya ini yang bisa penulis sajikan dan sebuah harapan ‘semoga dapat bermanfaat’..
(n _ n)
Laut
Aku terpikat kepada laut sejak ia menyajikan sebuah sajak
sebuah sajak untuk kami para anak-anak nelayan. Tentang kemilaunya pasir, tentang tongkat angin malam, tentang ringannya senja.
kami semua ingin segera berlari menghampirinya, berkecipak bersama setiap deburannya, tertawa gembira.
tapi tetap saja, sebagian dari kami takut…takut pada bayangan akan kedalamannya, yang akan membuat kami tak mampu bernafas.
(15 Januari 2012, mengenang pantai Tasitolu, timor-timur)

Celoteh : Kafir
Kekafiran itu memang tidak hanya sebatas agama A, agama B, dll (selain agama Islam) (tetapi bukan berarti bisa sembarangan mengkafir-kafirkan orang)
Siapapun yang mengingkari ayat-ayat Allah, Ia masuk dalam golongan Kafir.
Sepandai pandainya kita memasukkan kata agama islam dalam KTP, tetap saja, kekafiran itu bisa kapan saja mengetuk-ngetuk hati kita, menggoda. bahkan masuk.
kalau kita perhatikan (terutama di media, kampus dsb), pada faktanya banyak orang yang mencari-cari bahkan membuat teori-teori baru, yang keluar dari Al-Qur’an.
dengan menjadikan filsafat sebagai landasan berfikir, atau tidak membuat batasan dalam berfikir
bukankah pintu kesesatan itu kita sendiri yang membuknya, dikarenakan keingkaran kepada wahyu Allah.
menutup mata terhadap ayat-ayat Allah
Menutup telinga terhadap seruanNya
Bisu untuk menjelaskan sesuatu berdasarkan aturaNya
dengan alasan “Gak logislah!”
Kematian
Pagi ini saya melihat kalender
terus diperhatikan
“Sudah hari minggu lagi ya”
rasanya cepat sekali
(29 Januari 2012)
—————————————————————————————
Mungkin bukan selera logika ketika kita berfikir bahwa hidup kita akan selalu lama, bahkan mungkin tak pernah dijumpai kata akhir
Saya teringat dengan sebuah buku yang menarik, bahkan sekarang sudah ada CD nya “Malam pertama di alam kubur”

Jika sekarang kita tidur di kasur yang empuk
Suatu hari pasti akan kita rasakan, kita akan tidur dengan posisi yang sama
dihimpit bumi, tak ada yang menemani
hari pertama di sana adalah hari yang paling mengerikan, karena kita akan merasakan sebuah suasana yang betul-betul berbeda
Kalau saja kita bisa lolos dari siksa kubur itu, tentu perjalanan selanjutnya sudah bisa terjamin. tapi sebaliknya, sangat mengerikan perjalanan selanjutnya, andai kita tidak bisa lolos. Dan kita tidak bisa kembali untuk memperbaiki segalanya…semua terlambat.
Ngotot kerja, cari uang siang malam ….terus habis…cari lagi…habis lagi
Makan…keluar…makan lagi…keluar lagi
gak adahabis-habisnya, berulang terus
Sungguh, dunia ini betul-betul hanya sekedar permainan ya (o 0)
Kalau kita tidak bersungguh-sungguh untuk kehidupan sebenarnya kelak (baca: kehidpan akhirat)
Habislah kita, tidak ada yang bisa menolong
“Tobatnya nanti aja deh, kalau sudah tua, mau nikmati masa muda dulu.”
“pokoknya nanti aja deh, masih ada waktu ini, kan masih ada hari esok.”
kuatkan hati kita, ingat-ingat kembali, bukankah “TAMU” yang akan datang nanti, tidak akan bisa kita suruh pulang!
Hari apa, pukul berapa ia datang menemui kita, itu rahasia Allah
Jadi, siap-siap saja, percayalah kedatangannya adalah PASTI.
rencana-rencana yang kita telah susun nanti
sesungguhnya hanyalah ikhtiar kita
niatkan semua karena Allah, agar tak menjadi sebuah kesia-siaan.
Catatan Penting : Perjalanan yang berbuah
Ini hanyalah sebuah cerita, tetapi ini cerita yang bukan hanya sekedar cerita.
suatu hari saya sengaja berkunjung ke sebuah museum. saya menanyakan sejarah sebuah tempat, untuk sebuah kepentingan. Setelah sang pemandu bercerita panjang lebar, dan saya pun mengaggapinya dengan pertanyaan sedikit melebar. akhirnya keluarlah sebuah kalimat ini :
“Pemerintah seharusnya tegas, tempat yang mempunyai sejarah itu seharusnya tidak ada pengemis-pengemis yang mangkal. saya bingung kenapa dinas sosial tidak bisa bertindak tegas”
Kemudian, sepulang dari museum, muncul berbagai macam pertanyaan di benak. sambil berjalan, mengamati sekeliling, hingga tiba di sebuah jembatan yang akan saya angkat dalam sebuah cerpen. Langkah saya terhenti, dan saya kemudian duduk bersila disamping salah seorang peminta-minta. tapi istilah peminta-minta sepertinya memang tak layak dilayangkan kepada beliau.
Baiklah, ijinkan saya menuliskan tentang perasaannya…dia yang duduk sepanjang 1/2 hari. dengan topi dan payungnya, duduk tanpa perlu kaki terjulur. selalu tersenyum ramah, melantunkan doa dan rasa syukur ketika koin atau lembaran diberikan padanya. tangannya tak pernah meminta, ia hanya duduk disitu….hanya duduk.
Perlahan dia menunduk, dan berkata setelah saya bertanya kemudian terdiam agak lama sambil memperhatikan orang-orang yang ikut memperhatikan saya, (Jujur saya khawatir pertanyaan yang saya ajukan tidak berkenan di hati beliau, jadi saya terdiam, sambil menikmati terik).
Saya sesungguhnya malu seperti ini. dahulu saya bekerja, saya hidup berbahagia bersama istri dan kelima anak saya.
sampai suatu hari saya terjatuh dari kereta.
Kemudian beliau kembali tediam, matanya berkaca-kaca.tapi tidak lama, beliau kemudian melanjutkan kata-katanya dengan tegar.
kedua kaki saya hancur, dan diamputasi hingga pangkal paha. Saya dan istri saya akhirnyapun bercerai, dia menikah lagi.
Saya berusaha bertahan hidup demi kelima anak saya. Saya berusaha, semua harta saya, saya jadikan modal untuk membuka usaha. tetapi sulit sekali. punya modal kecil, sulit bersaing dengan mereka yang punya modal besar. yang ada hanya rugi dan rugi, apalagi dengan fisik seperti ini. Sedangkan kelima anak saya membutuhkan biaya pendidikan. Saya akhirnya terpaksa duduk disini.
[kemudian dia diam, dan matanya memandang seorang anak sekolah yang berjalan diseberang jembatan]
saya sebenarnya sangat malu, dan saya tahu anak-anak saya juga malu. Tapi saya harus bagaimana ?
Dulu, ketika jaman Soeharto, kalau kami dijaring oleh dinas sosial. Kami diberikan pekerjaan, tapi pendapatannya sangat tidak mencukupi. mungkin hanya cukup makan, itupun sangat seadanya, tetapi saat itu saya mencoba bertahan.
tapi akhirnya saya keluar, saya tidak mau anak-anak saya putus sekolah. saya harus mencari uang untuk mereka. dan saya kembali duduk di sini, saya tetap menggunakan kemeja saya, tidak berpura-pura menggunakan baju lusuh. saya tidak memohon untuk diberikan. saya hanya duduk disini, dan menunggu, selama 20 tahun saya duduk disini untuk bertahan, saya terus berfikir apa lagi yang bisa saya lakukan. pekerjaan apa yang bisa saya lakukan, agar anak saya bisa kuliah dan keempat adiknya bisa melanjutkan sekolah. Setelah jam 12, saya pergi untuk bekerja ditempat lain, saya tetap berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak, agar anak-anak saya juga tidak malu melihat bapaknya seperti ini. mereka sudah semakin dewasa sekarang.
Saya sadar banyak omongan tentang kami, mungkin kata mereka seperti ini: “Para pengemis itu gak jera-jera ya, udah dibilang jangan disitu, masih aja datang-datang lagi”
kemudian laki laki sesaat tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada seorang pejalan kaki yang baru saja memberinya uang. setelah pejalan kaki itu pergi, dengan wajah yang penuh syukur, ia menunduk, kemudian membacakan sebuah doa (doa yang sangat tulus). kemudian dia melanjutkan perkataannya dengan serius :
Dinas sosial sekarang tidak seperti dulu. Dulu setelah kami diberitahu, kami diberikan pekerjaan, walaupun memang sangat seadanya.
Kalau sekarang, setelah kami dijaring, iya, mereka tetap memberikan nasehat, bahwa tidak boleh berada disitu, tapi setelah itu kami dikeluarkan tanpa ada jalan keluar untuk masalah-masalah kami. Sudah sering saya dijaring, tapi malah jadi menganggap biasa.
beliau kemudian menghela nafas,
Tapi saya tetap akan berusaha. Bagi saya hidup itu akan lebih nikmat jika kita selalu bersyukur dan tidak berputus asa.
Ya, sekiranya hanya itu yang bisa saya ceritakan. Saat itu langit memang terlalu terik, tapi tak seterik pikiran saya.. berulang kali saya mengucapkan syukur, saya bisa duduk seperti beliau, mendapatkan sebuah pelajaran berharga yang takkan pernah saya dapatkan ditempat kuliah atau diseminar apapun itu yang pernah saya ikuti.
—————————
“Ketika ada sebuah masalah di depan kita. janganlah hanya memandang satu titik, tapi lihatlah lebih dekat titik-titik yang lain, sesungguhnya iya hanyalh lingkaran yang terputus-putus, satu dengan lainnya saling sebab menyebabkan”
Sesungguhnya mengentaskan masalah-masalah ini tidak bisa hanya dengan solusi yang seadanya atau bahkan setengah matang.
Dan “Bersyukurlah selalu dalam hidup, jangan pula memandang rendah orang-orang yang memaliki kemampuan di bawah kita”
Allah menerangi wajah manusia yang mendengar sabdaku, lalu menghafal dan mengingatkannya kemudian menyampaikannya kepada orang yang tidak mendengarkannya. Boleh jadi orang yang membawa fikih bukanlah orang yang yang fakih, dan boleh jadi orang yang membawa fikih menyampaikannya kepada orang yang lebih fakih ketimbang dirinya.
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Murtad (Riddah)
Kita pasti tahu, apa bedanya murtad dengan musyrik!
Berbeda dengan musyrik yang akan menghapus semua amal kebaikan sang pelaku (Ketika ia bertaubat, maka ia kembali suci). Murtad, punya konsekuensi hukum yang jelas.
So kita harus lebih berhati-hati, jangan-jangan tanpa sadar, kita masuk kedalam kriteria ini.
mari kita tengok, hal-hal apa saja yang mampu membuat seseorang dikatakan murtad (Riddah)!
1. Riddah dengan ucapan
Seperti :
-Mencaci Allah atau RasulNya, malaikat-malaikatNya
pasti telinga kita gak asing dengan kata-kata seperti ini :
“Kenapa Allah tidak adil ?” dsb,
padahal sesungguhnya Allah Maha Adil, namun karena sesuatu hal atau beberapa hal, seseorang dengan mudahnya mengucapkan kalimat itu.
- Mengakui mengetahui ilmu ghaib atau membenarkan orang yang mengaku nabi
- Berdoa kepada selain Allah, atau memohon pertolongan selain kepadaNya
2. Riddah dengan perbuatan
seperti :
-Sujud kepada patung, pohon, batu, kuburan dan memberikan sesajean.
-Membuang mushaf Al-Quran di tempat-tempat yang kotor
-Melakukan sihir
-Mempelajari dan mengajarkannya serta memutuskan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah dan meyakini kebolehannya.
Wait, ngomong-ngomong, hukum di negara ini dari mana ya ?
buatan manusia kan ya.
ditambah bumbu-bumbu kepentingan juga
kalau gitu gimana?
Ya, kita semua tentu tahu dan mengerti secara jelas, hukum Allah wajib untuk diterapkan (wong sang pencipta kita, jelas Yang Paling Mengetahui)……jadi, hukum selain berasal dariNya, ya TOLAK!
lagi pula, Allah sudah memberikan seperangkat aturan lengkap dan terjamin olehNya, kita tinggal nerapin secara menyeluruh (gak pake porsi setengah-setengah)…tp, kenapa sih harus cari kerjaan mau ciptain sendiri hukum, rapatnya aja ngabisin uang banyak, ngabisin waktu, pakai acara adegan berantem-berantem segala, rancu, toleransi sana-sini akhir-akhirnya gak jelas..
padahal, kemslahatan itu sesungguhnya ada disetiap penerapan syari’at islam.
3. Riddah dengan kepercayaan (i’tiqad)
- Kepercayaan adanya sekutu bagi Allah atau kepercayaan bahwa zina, khamar dan riba adalah halal
Hayu,
Who said, Zina HALAL ?
Who said, Riba HALAL ?
Who said, Khamar HALAL ?
Who said that ? Dont Trust he, she or they who said thatyou must Trust ALLAH..only Allah! (Karena menentukan halal dan haram, itu hanyalah hakNya)
- Atau percaya sholat adalah tidak wajib
4. Riddah dengan keraguan tentang sesuatu sebagaimana yang disebutkan pada point 1-3
misalnya saja ragu tentang diharamkannya zina
Jangan ragu, apa buktinya gak ragu? ya jelas, jangan didekati apalagi dilakukan.
Resep : Bola-Bola Daging
Bumbu :
Jahe
Bawang Putih
Bahan :
Daging
Tepung Kanji
Telur
Cara Membuat :
1. Haluskan jahe dan bawang putih, kasih garam secukupnya
2. Daging dicincang halus
3. Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam daging
4. Kasih garam, telur dan tepung kanji, kemudian aduk rata
5. Bentuk seperti bola-bola
6. Rebus (hingga terapung), tiriskan
7. Kemudian digoreng
8. Buat sambelnya (cabe, bawang putih, dan bawang merah)
9. Goreng mix (sambal + daging goreng)
Siap disajikan !
oPTIMIS
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
QS. al-Isra’ (17) : 83
——————————————————–
Sesungguhnya orang-orang yang berputus asa itu
adalah orang-orang yang meyakini tidak ada lagi hari esok
atau mereka meyakini bahwa besok tidak akan terjadi sesuatu
hanya hari ini…
Padahal, orang beriman itu
harus selalu optimis
Makanya Allah mengatakan, orang-orang yang berputus asa itu adalah orang-orang yang tidak beriman.
So, kita harus selalu optimis kawan!
yakinlah,
“Karena sesungguhnya disetiap kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah (94) :5)
Janji Allah itu pasti
Bersabarlah, artinya bukan berarti hanya pasrah, tetapi istiqamah!
——————————————————–
tapi… siapa bilang kau tak boleh menangis ?
Allah titipkan tangis baik dalam duka maupun bahagia, agar kita mampu menghargai air mata
menangislah…
kadang manusia terlalu sombong tuk menangis
lalu untuk apa airmata telah dicipta
(Sepotong lirik nasyid “Menangislah di Bahuku”-Firdaus)
Basa-basi Soal
Ini adalah sebuah soal
Dan soalnya adalah lagu dariku
Kuulangi putarannya terus menerus hingga kemarin
Apakah kau dengar ?
Jika ya, ingat-ingatlah setiap iramanya,
kemudian jika kau tahu : Ketuk-ketukkan jarimu, kuanggap itu jawabannya.
Agar aku bisa memeriksa jawabanmu, mohon tuliskan iramanya dimanapun kau suka dan aku dapat melihatnya. Jangan lupa cantumkan nama jelasmu dan kode soalnya.
Namun jika tidak : tak perlu ragu, abaikan saja soal ini, jika waktunya habis, akan kutarik kembali karena kuanggap kau tak tertarik.
(Catatan Ketika mengingat Ujian KTK, SMA)
Membalas Penghormatan
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu.
QS. an-Nisa (4) : 86
———————————————————————–
Misalnya saja perkara menjawab salam
Ketika seseorang mengucapkan “Assalamu’alaikum”
Maka kita wajib menjawabnya,
bisa dengan sepadan : “Wa’alaikumussalam” atau
bahkan dengan yang lebih baik “Wa’alaikumussalam Wa rahmatullah”






