Bismillah
Latar Belakang penulisan:
Ali Bin Abi Thalib pernah berkata “Ikatlah Ilmumu dengan cara menuliskannya”
Penulis juga mengucapkan terima kasih atas kunjungannya, hanya tulisan-tulisan ala kadarnya ini yang bisa penulis sajikan dan sebuah harapan ‘semoga dapat bermanfaat’..
(n _ n)
Catatan hati dan mata

Suatu hari puisi bercerita tentang senyap dan air mata :
bila siang menjelang,
ia kan sembunyikan air mata dibawah dedaunan..
Agar tak lekas kering terpapar matahari
Bila hujan datang,
kan ia bawa air mata kepermukaan..
Agar tak ada seorangpun yg tahu
pada hujan, air mata sesungguhnya ada
senyap tak pernah pandai menemukan kata untuk bicara
Namun ia bukan bisu
Ia hanya tak butuh bicara, manakala larikan air mata dari para pelukis yang ingin lunturkan warnanya
Celoteh :
Terlalu sibuk MENUNTUT!
dari yang mulai nyengir sampai nyentil
semua hanya digunakan untuk memperhalus kata ‘Harus’
untuk menggambarkan betapa orang lain harus sesuai dengan KACA dengan ukuran bla…bla..agar PAS.
Bagaimana kalau kaca itu kita ubah saja menjadi CERMIN, agar kau bisa melihat “bagaimana dengan dirimu sendiri, apa kau juga sudah PAS?!”
atau
kalau kau ingin adil, tak apa, taruh saja KACA dihadapanmu, terus jangan lupa taruh CERMIN di belakang kaca itu…agar penglihatanpun menjadi lebih sempurna.

Pasang sabuk Niat Dengan Benar Saat Berobat
Penulis pernah iseng bertanya ke beberapa teman :
“Kenapa ketika sakit, kita berobat?”
paling banyak jawabannya : Karena mereka yakin, kalau berobat dapat menyembuhkan.
Sebenarnya jawaban itu sangat umum, tapi sangat berpengaruh karena masalah niat dan hasil yang akan kita peroleh
lho kok bisa?
sebenarnya kunci jawaban pertanyaan tadi cuma satu :
Kita yakin bahwa pastilah Allah yang menyembuhkan
Lalu kalau Allah yang menyembuhkan, kenapa kita harus berobat ?
karena itu diperintahkan. Kita diperintahkan untuk berikhtiar dengan berobat
Jadi kita berobat untuk mencari pahala, mentati perintah Allah, ini point plusnya.
Kalau disembuhkan … ya Alhamdulillah
Ini namanya kauniyah
Celoteh : Cara Modern menghormati Al-Qur’an
Betul-betul sangat menghormati Al-Qur’an
ditaruh di tempat yang begitu tinggi
niatnya betul-betul ingin menghormati
tapi……… kenapa gak diambil-ambil (0 0?)
siapa bilang? diambil kok!
kapan?
nanti kalau ada orang yang meninggal, pasti diambil
terus taruh didekat kepala sang mayit
oh, dibaca?
yah taro aja, nanti setelah selesai acara, ditaruh lagi di atas lemari
(= =”)
Laut
Aku terpikat kepada laut sejak ia menyajikan sebuah sajak
sebuah sajak untuk kami para anak-anak nelayan. Tentang kemilaunya pasir, tentang tongkat angin malam, tentang ringannya senja.
kami semua ingin segera berlari menghampirinya, berkecipak bersama setiap deburannya, tertawa gembira.
tapi tetap saja, sebagian dari kami takut…takut pada bayangan akan kedalamannya, yang akan membuat kami tak mampu bernafas.
(15 Januari 2012, mengenang pantai Tasitolu, timor-timur)

Celoteh : Kafir
Kekafiran itu memang tidak hanya sebatas agama A, agama B, dll (selain agama Islam) (tetapi bukan berarti bisa sembarangan mengkafir-kafirkan orang)
Siapapun yang mengingkari ayat-ayat Allah, Ia masuk dalam golongan Kafir.
Sepandai pandainya kita memasukkan kata agama islam dalam KTP, tetap saja, kekafiran itu bisa kapan saja mengetuk-ngetuk hati kita, menggoda. bahkan masuk.
kalau kita perhatikan (terutama di media, kampus dsb), pada faktanya banyak orang yang mencari-cari bahkan membuat teori-teori baru, yang keluar dari Al-Qur’an.
dengan menjadikan filsafat sebagai landasan berfikir, atau tidak membuat batasan dalam berfikir
bukankah pintu kesesatan itu kita sendiri yang membuknya, dikarenakan keingkaran kepada wahyu Allah.
menutup mata terhadap ayat-ayat Allah
Menutup telinga terhadap seruanNya
Bisu untuk menjelaskan sesuatu berdasarkan aturaNya
dengan alasan “Gak logislah!”
Kematian
Pagi ini saya melihat kalender
terus diperhatikan
“Sudah hari minggu lagi ya”
rasanya cepat sekali
(29 Januari 2012)
—————————————————————————————
Mungkin bukan selera logika ketika kita berfikir bahwa hidup kita akan selalu lama, bahkan mungkin tak pernah dijumpai kata akhir
Saya teringat dengan sebuah buku yang menarik, bahkan sekarang sudah ada CD nya “Malam pertama di alam kubur”

Jika sekarang kita tidur di kasur yang empuk
Suatu hari pasti akan kita rasakan, kita akan tidur dengan posisi yang sama
dihimpit bumi, tak ada yang menemani
hari pertama di sana adalah hari yang paling mengerikan, karena kita akan merasakan sebuah suasana yang betul-betul berbeda
Kalau saja kita bisa lolos dari siksa kubur itu, tentu perjalanan selanjutnya sudah bisa terjamin. tapi sebaliknya, sangat mengerikan perjalanan selanjutnya, andai kita tidak bisa lolos. Dan kita tidak bisa kembali untuk memperbaiki segalanya…semua terlambat.
Ngotot kerja, cari uang siang malam ….terus habis…cari lagi…habis lagi
Makan…keluar…makan lagi…keluar lagi
gak adahabis-habisnya, berulang terus
Sungguh, dunia ini betul-betul hanya sekedar permainan ya (o 0)
Kalau kita tidak bersungguh-sungguh untuk kehidupan sebenarnya kelak (baca: kehidpan akhirat)
Habislah kita, tidak ada yang bisa menolong
“Tobatnya nanti aja deh, kalau sudah tua, mau nikmati masa muda dulu.”
“pokoknya nanti aja deh, masih ada waktu ini, kan masih ada hari esok.”
kuatkan hati kita, ingat-ingat kembali, bukankah “TAMU” yang akan datang nanti, tidak akan bisa kita suruh pulang!
Hari apa, pukul berapa ia datang menemui kita, itu rahasia Allah
Jadi, siap-siap saja, percayalah kedatangannya adalah PASTI.
rencana-rencana yang kita telah susun nanti
sesungguhnya hanyalah ikhtiar kita
niatkan semua karena Allah, agar tak menjadi sebuah kesia-siaan.
Catatan Penting : Perjalanan yang berbuah
Ini hanyalah sebuah cerita, tetapi ini cerita yang bukan hanya sekedar cerita.
suatu hari saya sengaja berkunjung ke sebuah museum. saya menanyakan sejarah sebuah tempat, untuk sebuah kepentingan. Setelah sang pemandu bercerita panjang lebar, dan saya pun mengaggapinya dengan pertanyaan sedikit melebar. akhirnya keluarlah sebuah kalimat ini :
“Pemerintah seharusnya tegas, tempat yang mempunyai sejarah itu seharusnya tidak ada pengemis-pengemis yang mangkal. saya bingung kenapa dinas sosial tidak bisa bertindak tegas”
Kemudian, sepulang dari museum, muncul berbagai macam pertanyaan di benak. sambil berjalan, mengamati sekeliling, hingga tiba di sebuah jembatan yang akan saya angkat dalam sebuah cerpen. Langkah saya terhenti, dan saya kemudian duduk bersila disamping salah seorang peminta-minta. tapi istilah peminta-minta sepertinya memang tak layak dilayangkan kepada beliau.
Baiklah, ijinkan saya menuliskan tentang perasaannya…dia yang duduk sepanjang 1/2 hari. dengan topi dan payungnya, duduk tanpa perlu kaki terjulur. selalu tersenyum ramah, melantunkan doa dan rasa syukur ketika koin atau lembaran diberikan padanya. tangannya tak pernah meminta, ia hanya duduk disitu….hanya duduk.
Perlahan dia menunduk, dan berkata setelah saya bertanya kemudian terdiam agak lama sambil memperhatikan orang-orang yang ikut memperhatikan saya, (Jujur saya khawatir pertanyaan yang saya ajukan tidak berkenan di hati beliau, jadi saya terdiam, sambil menikmati terik).
Saya sesungguhnya malu seperti ini. dahulu saya bekerja, saya hidup berbahagia bersama istri dan kelima anak saya.
sampai suatu hari saya terjatuh dari kereta.
Allah menerangi wajah manusia yang mendengar sabdaku, lalu menghafal dan mengingatkannya kemudian menyampaikannya kepada orang yang tidak mendengarkannya. Boleh jadi orang yang membawa fikih bukanlah orang yang yang fakih, dan boleh jadi orang yang membawa fikih menyampaikannya kepada orang yang lebih fakih ketimbang dirinya.
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)







